Pagi itu Kowel masih setengah mengantuk.
Embun belum benar-benar hilang ketika halaman rumah H. Syaiful Anam mulai dipenuhi suara salam, tawa, dan bunyi sandal yang bergesekan dengan tanah. Di seberang jalan rumah beliau, sebuah lembaga TK yang halamannya lebih luas tampak sudah ramai sejak subuh. Di tempat itulah spanduk besar dibentangkan:
�Selamat Datang IKANSA 90 BerQurban 1447 H.�
Pemilihan tempat itu bukan tanpa alasan. Halaman TK yang lebih lapang dianggap paling memungkinkan untuk proses pengolahan, pencacahan, hingga pembungkusan daging kurban agar para panitia bisa bekerja lebih leluasa.
Kalimat pada spanduk itu sederhana. Tetapi bagi alumni SMA Negeri 1 angkatan 1990, spanduk itu seperti pintu waktu yang membuka kembali masa muda mereka.
Jam enam pagi penyembelihan dimulai.
Tim jagal yang memang sudah berpengalaman langsung bergerak cepat. Ada yang menyembelih, menguliti, mencacah, memisahkan tulang, menimbang, sampai membungkus daging sesuai jatah distribusi.
Pisau beradu dengan talenan. Kresek berbunyi bersahutan. Aroma kopi bercampur suasana pagi yang masih dingin memenuhi halaman itu.
Sementara itu teman-teman alumni berdatangan satu per satu.
Ada yang membantu menghitung kantong distribusi. Ada yang mendata penerima. Ada yang sibuk menyiapkan konsumsi. Dan ada pula yang mengambil tugas paling mulia: duduk di kursi panjang sambil tertawa mengenang masa SMA.
Aneh memang.
Makin tua, makin banyak pelajaran sekolah yang mulai lupa. Tetapi soal cerita guru killer, cinta monyet, teman tidur di kelas, atau kisah bolos berjamaah � kenangannya justru makin jelas dan sulit hilang.
Dan suasana langsung berubah total ketika Aminullah datang.
Belum juga duduk, beberapa teman langsung berseru:
�Nah� Cak Lontong datang!�
Aminullah � Kepala Desa Teja Timur � memang menjadi tokoh wajib dalam setiap kumpul alumni. Orang Madura menyebut tipe manusia seperti itu dengan istilah kessap.
Tidak usah melucu. Tidak usah cari perhatian. Tidak usah pasang ekspresi.
Dia cukup bicara apa adanya, tetapi orang-orang sudah ketawa duluan.
Di sela pembungkusan daging, tiba-tiba ia nyeletuk dengan wajah serius:
�Monteng alako, elong papolong, benyak ollena��
Orang-orang sempat diam. Mencoba memahami.
Lalu beberapa detik kemudian seseorang menjelaskan:
Kalau kalimat itu ditulis tanpa spasi:
�Monteng alako, elong papolong��
maka �monteng� berarti pinggang dan �elong papolong� berarti hidung bertemu.
Tetapi kalau dipisah menjadi:
�Mon teng alako, elong pa polong, benyak ollena��
maknanya berubah menjadi:
�Kalau pulang kerja, dikumpulkan, banyak hasilnya.�
Dan di situlah letak lucunya.
Satu kalimat. Dua makna. Satu serius. Satu ngawur.
Madura memang kadang bisa membuat orang tertawa hanya karena permainan jeda dan intonasi.
Belum reda gelak tawa, Cak Lontong kembali menebar jebakan pantun:
�Ka Semarang ngaleleleng, ka Sumenep pas ka bisokeh��
Lalu diam.
Orang-orang langsung penasaran.
�Lanjut� lanjut�!�
Tetapi dengan wajah tanpa dosa ia malah menjawab:
�Untuk jawaban lengkapnya silakan japri pribadi Cak Lontong Aminullah��
Seketika tawa meledak lagi.
Belum selesai orang menarik napas, muncul lagi jurus berikutnya:
�Polok rantang cete pereng��
Orang-orang mulai curiga. Biasanya kalau pembukaannya begini, ujungnya pasti ngawur.
Benar saja.
Dengan gaya seperti dosen memberi kuliah filsafat ia melanjutkan:
�Kol empak� kol lemak� kol enem parak sobbhuweh��
Lalu kembali berkata santai:
�Jawabannya japri saja��
Dan meja panjang itu kembali berguncang oleh tawa.
Sementara itu di sudut lain, ibu-ibu panitia berkaos merah tetap sibuk membungkus daging sambil sesekali ikut menimpali candaan.
Tiba-tiba salah seorang penjagal mengangkat bagian jantung sapi sambil berkata:
�Jantung sapi ini namanya kol tongkolan��
Belum selesai semua mencerna, salah satu panitia putri langsung menyambar cepat:
�Mon nika tak nyare kol tongkolan, tape nyare lor telloran��
Dan� pecah lagi.
Ada yang sampai menepuk meja. Ada yang tertawa sambil memegang perut. Ada yang hampir salah memasukkan daging ke kantong karena terlalu fokus ketawa.
Tetapi di balik semua tawa itu, sebenarnya ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kumpul alumni.
Kegiatan kurban IKANSA 90 ini bukan hanya digerakkan oleh teman-teman yang tinggal di Pamekasan.
Banyak alumni yang tinggal di luar kota tetap ikut berpartisipasi. Ada yang tidak bisa hadir karena pekerjaan, jarak, atau kesibukan hidup. Ada yang mungkin sudah lama tidak bertemu langsung dengan teman-temannya. Tetapi ketika informasi kurban dibagikan di grup alumni, nama demi nama mulai masuk. Amanah demi amanah mulai terkumpul.
Dan itulah yang membuat kegiatan ini terasa menyentuh.
Mereka mungkin tidak duduk di meja panjang pagi itu. Tidak ikut tertawa mendengar gojlokan Cak Lontong. Tidak memegang plastik daging atau membantu distribusi.
Tetapi hati mereka tetap ada di sana.
Di zaman ketika banyak hubungan hanya tinggal nama di grup WhatsApp, teman-teman IKANSA 90 justru membuktikan bahwa persaudaraan bisa tetap hidup walaupun dipisahkan jarak, pekerjaan, usia, dan kesibukan masing-masing.
Mereka percaya kepada panitia. Percaya kepada teman-temannya sendiri. Percaya bahwa amanah yang mereka kirim akan berubah menjadi manfaat untuk orang lain.
Tidak ada proposal tebal. Tidak ada rapat mewah. Tidak ada kontrak hitam di atas putih.
Yang ada hanyalah rasa saling percaya yang sudah dibangun sejak sama-sama memakai seragam putih abu-abu puluhan tahun lalu.
Dan mungkin itulah yang paling mengharukan.
Bahwa waktu ternyata tidak berhasil menghapus rasa persaudaraan itu.
Mereka memang sudah menua. Rambut sebagian mulai memutih. Wajah tidak lagi sama seperti saat duduk di bangku SMA.
Tetapi ketika nama IKANSA 90 memanggil untuk sebuah kebaikan, mereka tetap datang. Kalau tidak bisa datang dengan tenaga, mereka datang dengan doa. Kalau tidak bisa hadir dengan tubuh, mereka hadir lewat dukungan dan kepercayaan.
Karena sesungguhnya yang membuat sebuah alumni tetap hidup bukan reuni mewah atau foto nostalgia tahunan.
Tetapi kesediaan untuk terus berjalan bersama dalam kebaikan.
Dan pagi itu, di bawah spanduk kurban sederhana di Kowel, semua orang seperti diingatkan kembali:
Persahabatan yang paling indah bukanlah yang paling sering bertemu.
Melainkan yang tetap saling percaya meski dipisahkan waktu dan jarak.